Biografi

Jumat, 25 Maret 2016

SEJARAH KAMPUNG GAJAH KECAMATAN KUTAWARINGIN KAB. BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT


Binatang Gajah sudah lama hidup di Tatar Sunda sekitar 40 ribu tahun yang lalu. Bagi T.Bachtiar, seorang Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, sebagaimana yang tertulis dalam artikelnya “Gajah Pernah Hidup di Tatar Sunda” di Harian Pikiran Rakyat, Kamis, 21 Juli 2005, kemungkinan gajah pernah berkeliaran di Tanah Sunda itu tidaklah mengejutkan karena memang memiliki bukti-bukti yang kuat. Selain bukti berupa ditemukannya fosil-fosil gajah, juga dari aspek budaya, bahasa, dan sastra Sunda pun turut memperkuat bukti keberadaan gajah di Tanah Sunda baheula.
Di Jawa Barat sebenarnya sudah banyak ditemukan fosil gajah, seperti di Cijurai (Cirebon), Baribis (Majalengka), Cikamurang (Sumedang), Punggungan Tambakan (Subang), Cibinong (Bogor), atau Mauk (Tangerang). Terlebih, pada 7 Juli 2004, temuan fosil gajah bertambah di Rancamalang, Kabupaten Bandung. Dr. Fachroel Aziz, ahli dari Museum Geologi Bandung, dengan hanya mengamati sepintas, sudah langsung dapat menduga, temuan baru itu adalah fosil geraham gajah Asia (Elephas maximus). Dari segi keutuhan fosil geraham, fosil dari Rancamalang ini bisa jadi merupakan fosil geraham paling utuh, bahkan di dunia. Akar giginya masih lengkap dan utuh.
Dunia keilmuan Antropologi mengenal teori sistem simbol yang diintrodusir oleh Clifford Geertz, seorang Antropolog Amerika. Dalam bukunya yang berjudul Tafsir Kebudayaan (1992), Geertz menguraikan makna dibalik sistem simbol yang ada pada suatu kebudayaan. Antropolog yang terkenal di tanah air melalui karyanya “Religion of Java” itu menyatakan bahwa sistem simbol merefleksikan kebudayaan tertentu. Jadi, bila ingin menginterpretasi sebuah kebudayaan maka dapat dilakukan dengan menafsirkan sistem simbolnya, berkaitan dengan simbol tersebut sebagian kalangan masyarakat Tatar Sunda berkeyakinan bahwa gajah adalah simbol Pajajaran yang sebenarnya.
Abad ke 4 Masehi hingga 7 Masehi, binatang Gajah pun familiar dan dikenal masyarakat, sangat mungkin manusia prasejarah di Tatar Sunda sudah sangat terkesan dengan binatang berkaki empat yang ukurannya sangat besar ini, Kata gajah hampir dipakai dalam setiap kesempatan yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia Tatar Sunda.



Kekuatan binatang gajah ini juga menjadi inspirasi pemberian nama tokoh di Tatar Sunda diantaranya Dalem Gajah dengan nama lain Prabu Gajah Agung Wangi Kusuma atau Raden Rangga Adikusuma atau Dewa Aji Guru Adegan Kusuma yang merupakan Prabu Siliwangi ke 5 Raja Pajajaran.
Berikut ini susunan nama-nama Raja Pajajaran 1 - 9 yang terdiri dari::
·           Prabu Siliwangi ke 1     Prabu Haruman Buana Kusuma
·           Prabu Siliwangi ke 2     Prabu Jaeng Naga Suksena Kusuma
                                      (Makamnya di Galuh/Gunung )
·           Prabu Siliwangi ke 3     Prabu Batara Dewa Kusuma
                                     (Makamnya di Perbatasan Banjar - Ciamis Dekat Makam                 Sunan Rama dan Ambu Balongan Cikajayaan)
·           Prabu Siliwangi ke 4     Prabu Cakra Sukma Wijaya Kusuma
                                      (Makamnya di Gunung Manglayang)
·           Prabu Siliwangi ke 5     Prabu Dewa Aji Guru Adegan Kusuma
                                      (Makamnya di Gajah Eretan Kutawaringin Kab. Bandung)
·           Prabu Siliwangi ke 6     Prabu Sanghyang Cakrawayan
                                      (Makamnya di Cimalaka Sumedang)
·           Prabu Siliwangi ke 7     Prabu Cakra Ningrat Kusuma
                                      (Makamnya di Cimalaka Sumedang)
·           Prabu Siliwangi ke 8     Prabu Jaya Perkasa
                                      (Makamnya di Dayeuh Luhur Sumedang)
·           Prabu Siliwangi ke 9     Prabu Surya Kencana
                                      (Makamnya di Gunung Pangrango Bogor)


Fase Prabu Siliwangi yang ke 5 yaitu Prabu Dewa Aji Guru Adegan Kusuma dengan nama saat usia muda (nuju Anom) yaitu Raden Rangga Adikusuma mempunyai teman pendamping seusianya antara lain : Raden Rangga Jaya (Makamnya Gunung Manik Perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah), Raden Rangga Pati ( Makamnya Gunung Puseran Gara Wangi Kuningan), Raden Rangga Kusuma (Makamnya  Gunung Papandayan - Garut). Raden Rangga Adikusuma mempersunting Nyimas Ratu Raden Ajeng Wulan Kusuma adiknya Nyimas Kuning Ayu (Gunung Ceremai Kuningan). Raden Rangga Adikusuma menduduki jabatan Raja Pajajaran yang ke 5 dengan nama Prabu Dewa Aji Guru Adegan Kusuma ( karena sudah ngadeg/jeneng ). Prabu Dewa Aji Guru Adegan Kusuma dikenal sebagai raja “anu nyaah ka rakyat, deudeuh kanu leutik, aya istilah kolot esto budak ngora ge hormat,  anu leutik oge dipiasih ku anjeuna mah” . Karena perilaku beliau yang sangat menyayangi rakyatnya maka Dewa Ganesha  memberikan sebuah patung Ganesha sebagai hadiah. Dengan pemberian patung ganesha tersebut maka beliau dianugrahi gelar Prabu Gajah Agung Wangi Kusuma . Beliau selama menjabat sebagai Raja Pajajaran fase Prabu Siliwangi yang ke 5 ini, tinggal di Keraton Giri Gading Wangi dan wafatnya juga di tempat tersebut yaitu di Desa Pameuntasan Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Para rakyat yang tinggal di wilayah Keraton Giri Gading Wangi terbiasa menyebut nama wewengkon (wilayah) beliau dengan istilah “Kadaleman Gajah”, lama kelamaan istilah tersebut dikenal dengan nama Dalem Gajah. Lokasi makam Raden Rangga Adikusuma/Prabu Gajah Agung Wangi Kusuma/Prabu Dewa Aji Guru Adegan Kusuma/Dalem Gajah pun dinamakan dengan nama Kampung Gajah.


Pada tahun 1982 Desa Pameuntasan Kecamatan Soreang mengalami pemekaran wilayah,oleh karena itu semua  tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, kepala dusun dan pemuka adat bermusyawarah di balai desa untuk mencari  nama desa baru hasil pemekaran.   Hasil musyawarah dari para tokoh disetujuilah bahwa desa yang baru tersebut diberi  nama Desa Gajahmekar, karena menjungjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal bahwasannya di Kampung Gajah yang merupakan wilayah  Desa Gajahmekar tersebut, terdapat Makam  Dalem Gajah atau Prabu Gajah Agung Wangi Kusuma yang merupakan Raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi ke 5. Pada saat ini makam tersebut telah tercatat sebagai salah satu Situs Purbakala oleh Pemerintah Kabupaten Bandung.

Seiring dengan perkembangan zaman, Kampung Gajah pun berubah nama menjadi Kampung Gajah Eretan (Karena ada perahu yang dieret di Sungai Citarum, untuk menyebrangkan orang, barang, hewan, dan kendaraan roda dua) ke Kampung Daraulin Desa Nanjung Kec. Margaasih. Di wilayah Desa Gajahmekar terdapat pula Kampung Gajah Cipari  ( Karena daerah ini terdapat sungai kecil aliran irigasi atau anak sungai citarum orang setempat menyebutnya cipari), dan Kampung Gajah Kantor (karena dulu daerah ini dijadikan pusat perkantoran/pemerintahan Prabu Siliwangi Ke - 5 / Prabu Dewa Aji Adegan Kusuma / Dalem Gajah / Prabu Gajah Agung Wangi Kusuma / Raden Rangga Adikusuma).

Pada tahun 2008 Kecamatan Soreang mengalami pemekaran wilayah sehingga Desa Gajahmekar yang awalnya termasuk wilayah Kecamatan Soreang beralih ke kecamatan baru yaitu Kecamatan Kutawaringin, sehingga sekarang Kampung Gajah yang berubah nama menjadi Kampung Gajah Eretan Desa Gajahmekar berada diwilayah Kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.

Salam Santun..... Salam Rahayu...... dan Semoga Jaya selalu .....
( Raden A. Agung Kujang Santang Kusuma )


4 komentar:

  1. Makasih infonya ...jadi lebih tau daerah sendiri...

    BalasHapus
  2. Tienen Gold - Titanium Gold - Tienen - Tati Online
    Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen titanium nail gold. Tienen gold. Tienen samsung titanium watch gold. Tienen gold. Tienen titan metal gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. titanium magnetic Tienen gold. titanium vs stainless steel Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold. Tienen gold.

    BalasHapus